Transformation of the Position, Functions, and Authorities of the People’s Consultative Assembly in the Indonesian Constitutional System After the Amendment of the 1945 Constitution

Transformasi Kedudukan, Fungsi, Dan Kewenangan Majelis Permusyawaratan Rakyat Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Pasca Amandemen Uud 1945

Authors

  • Mar'ah Shaliha Universitas Muhammadiyah Makassar Author
  • Muh. Reyhan Al Fauzi Universitas Muhammadiyah Makassar Author
  • Nur Aswini Universitas Muhammadiyah Makassar Author
  • Nur Azisa Universitas Muhammadiyah Makassar Author
  • Nur Maladewi Universitas Muhammadiyah Makassar Author
  • Firdaus Universitas Muhammadiyah Makassar Author
  • Andi Santri Syamsuri Universitas Muhammadiyah Makassar Author

DOI:

https://doi.org/10.70392/jrs.v3i1.33

Keywords:

People’s Consultative Assembly (MPR), Amendment of the 1945 Constitution, Constitutional Supremacy, Checks and Balances, Constitutional Reform

Abstract

This article examines the changes in the position, functions, and role of the People’s Consultative Assembly (Majelis Permusyawaratan Rakyat/MPR) following the amendments to the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia. This study employs a literature review method by analyzing constitutional law textbooks, academic journals, official MPR documents, and historical records of the reform era. Prior to the amendments, the MPR functioned as the highest state institution with extensive authority, including electing the President and Vice President and formulating the Broad Outlines of State Policy (GBHN) as national development guidelines. After the constitutional amendments, the MPR was transformed into a high state institution with a position equal to other state institutions, and its authority became more limited and focused, particularly on amending and enacting the Constitution, inaugurating the President and Vice President, and deciding on presidential dismissal under specific conditions based on decisions of the Constitutional Court. These changes represent not merely a reduction of authority but an effort to establish a more democratic and accountable constitutional system through the strengthening of the checks and balances principle. The findings indicate that despite its reduced authority, the MPR continues to play a crucial role in safeguarding constitutional continuity and symbolizing popular deliberation within Indonesia’s constitutional framework.

Author Biographies

  • Mar'ah Shaliha, Universitas Muhammadiyah Makassar

    Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

  • Muh. Reyhan Al Fauzi, Universitas Muhammadiyah Makassar

    Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

  • Nur Aswini, Universitas Muhammadiyah Makassar

    Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

  • Nur Azisa, Universitas Muhammadiyah Makassar

    Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

  • Nur Maladewi, Universitas Muhammadiyah Makassar

    Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

  • Firdaus, Universitas Muhammadiyah Makassar

    Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

  • Andi Santri Syamsuri, Universitas Muhammadiyah Makassar

    Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

References

Asshiddiqie, J. Format Kelembagaan Negara dan Pergeseran Kekuasaan dalam UUD 1945. Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia, 2005.

Asshiddiqie, J. Hukum Tata Negara dan Pilar-Pilar Demokrasi. Konstitusi Press, Jakarta, Indonesia, 2006.

Budiardjo, M. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Indonesia, 2010.

Fajrul, F. Reformasi ketatanegaraan Indonesia pasca amandemen UUD 1945. Jurnal Hukum dan Demokrasi 2019, 14(2), 112–129.

Indrayana, D. Amandemen UUD 1945: Antara Teks dan Praktik. Kompas, Jakarta, Indonesia, 2008.

Mahfud, M.D. Perdebatan Hukum Tata Negara. Rajawali Pers, Jakarta, Indonesia, 2010.

Mahfud, M.D. Politik Hukum di Indonesia. Rajawali Pers, Jakarta, Indonesia, 2011

Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Naskah Komprehensif Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sekretariat Jenderal Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Indonesia, 2010.

Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. Tugas dan Wewenang MPR dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia. Sekretariat Jenderal MPR RI, Jakarta, Indonesia, 2014.

Marbun, S.F. Kedudukan MPR sebelum dan sesudah amandemen. Jurnal Konstitusi 2012, 9(3), 451–470.

Nurtjahjo, H. Harga Sebuah Reformasi Konstitusi. UI Press, Jakarta, Indonesia, 2006.

Soemantri, S. Prosedur dan Sistem Amandemen UUD 1945. Alumni, Bandung, Indonesia, 2001.

Surbakti, R. Memahami Ilmu Politik. Grasindo, Jakarta, Indonesia, 2013.

Ubaidillah, A.; dkk. Pembaruan Ketatanegaraan Indonesia. Intrans Publishing, Malang, Indonesia, 2000.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebelum dan sesudah amandemen. Sekretariat Negara Republik Indonesia, Jakarta, Indonesia.

Yamin, M. Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945. Balai Pustaka, Jakarta.

Downloads

Published

17-05-2026

How to Cite

Shaliha, M., Al Fauzi, M. R., Aswini, N., Azisa, N., Maladewi, N., Firdaus, & Syamsuri, A. S. (2026). Transformation of the Position, Functions, and Authorities of the People’s Consultative Assembly in the Indonesian Constitutional System After the Amendment of the 1945 Constitution: Transformasi Kedudukan, Fungsi, Dan Kewenangan Majelis Permusyawaratan Rakyat Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Pasca Amandemen Uud 1945. Jurnal Riseta Soshum, 3(1), 11-18. https://doi.org/10.70392/jrs.v3i1.33